Jumat, 07 Agustus 2009

Cara Mengubah Nama Domain Blog Gratisan Wordpress dan Blogspot

Hi Welcome, Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Jika anda merasa tulisan di blog ini bermanfaat, silahkan subscribe untuk mendapatkan informasi setiap ada tulisan baru di blog ini. Terima Kasih dan Salam, Blogger Pemula

cara mengubah nama domain blog gratisan

cara mengubah nama domain blog gratisan

Memiliki nama domain sendiri memang sangat banyak kelebihannya, seperti yang pernah kita bahas ditulisan sebelumnya mengenai alasan memiliki nama domain sendiri. Untuk kita yang belum mampu menyewa hosting sendiri, kita bisa membeli domain dan menggunakan hosting gratisan di blogspot.com maupun di wordpress.com. Namun untuk bisa menguangkan blog sebaiknya gunakan blogspot.com karena wordpress.com tidak mengizinkan kita untuk monetasi blog. Blog gratisan umumnya memberikan kita nama domain berupa subdomain dari domain Utama mereka yaitu blogspot.com dan wordpress.com, namun mereka juga menyediakan fitur untuk mengubah nama domain tersebut menjadi nama domain kita sendiri. Lalu bagaimana langkah-langkah mengubah nama domain tersebut?

Cara mengubah nama domain blogspot.com menjadi nama domain sendiri

Langkah 1: Ubah DNS nama domain kita di tempat kita membeli domain.

Contohnya untuk godaddy:

  1. Login ke akun godaddy kita di www.godaddy.com.
  2. Buka bagian “Domains” dan klik “My Domain Names”. Kita akan diarahkan ke halaman “Domain Manager”.
  3. Klik domain yang kita ingin gunakan sebagai nama blog kita.
  4. Klik “Total DNS”.
  5. Klik “Add New CNAME Record” di kotak CNAMES (aliases) untuk membuat “CNAME RECORD” blog kita, atau kalau sudah pernah ada klik edit.
  6. Untuk kotak nama, masukkan subdomain yang akan kita gunakan sebagai subdomain blog kita. Umumnya menggunakan www. namun bisa juga kita buat blog. bila kita ingin alamat blog kita menjadi http://blog.bloggerpemula.info
  7. Pada kotak Host Name Masukkan ghs.google.com sebagai nama host kita. Tentukan TTL (batas waktu) atau gunakan nilai default yaitu 1 jam.
  8. Klik OK hingga selesai.

Langkah 2: Login ke akun blogger kita

Langkah 3: Di dashboard blog yang ingin kita ubah nama domainnya, klik “settings”

Langkah 4: Dibagian tab “settings” klik tab ”Publishing

Langkah 5: Dibagian tab “Publishing” klik “custom” domain setelah tulisan Switch To:

Langkah 6: Klik “switch to advanced settings” setelah tulisan Already have a domain?

Langkah 7: Masukkan nama domain dan kata untuk verifikasi, dan klik “save settings”. Aturan Nama Domain Yang Diperbolehkan:

  • Nama domain harus disertai subdomain atau minimum dengan tambahan www. didepannya. Contoh: www.bloggerpemula.info atau blog.bloggerpemula.info tidak boleh hanya bloggerpemula.info

Langkah 8: Tandai bagian “Redirect bloggerpemula.info to www.bloggerpemula.info” agar nama domain tanpa www di arahkan ke domain dengan www. Keuntungannya orang yang mengetikkan nama domain kita tidak perlu mengetikkan www.

Cara mengubah nama domain wordpress.com menjadi nama domain sendiri

Langkah 1: Ubah DNS nama domain kita di tempat kita membeli domain.

Contohnya untuk godaddy:

  1. Login ke akun godaddy kita di www.godaddy.com.
  2. Buka bagian “Domains” dan klik “My Domain Names”. Kita akan diarahkan ke halaman “Domain Manager”.
  3. Klik domain yang kita ingin gunakan sebagai nama blog kita.
  4. Klik “Nameservers”
  5. Masukkan 3 DNS berikut:

NS1.WORDPRESS.COM

NS2.WORDPRESS.COM

NS3.WORDPRESS.COM

Langkah 2: Login ke akun wordpress.com kita

Langkah 3: Di dashboard blog yang ingin kita ubah nama domainnya, klik “settings”

Langkah 4: Dibagian tab “settings” klik tab ”Domains”

Langkah 5: Dibagian tab “Domains “ ketikkan nama domain kita lalu klik “add domain”

Catatan: Wordpress.com mengenakan biaya 9.97 kredit per tahun untuk perubahan nama domain ini, tidak termasuk harga domain itu sendiri. Kredit ini dapat dibeli menggunakan paypal.

Kesimpulan

Bila kita cukup dana untuk menyewa hosting sendiri, kita bisa transfer isi blog kita baik itu komentar dan postingan. Dan nilai peringkat blog kita baik PR google maupun Alexa akan tetap sama karena nama domain kita tetap, walaupun isi blog kita berubah sama sekali.




copas dari suatu site..

Kamis, 06 Agustus 2009

Perbedaan Hub dan Switch

Hub Switch
10 Mbps 10/100 Mbps
Selalu broadcast Hanya sekali broadcast
Tidak mempunyai CAM Table Mempunyai CAM Table
Half duplex Full duplex
Tidak aman Aman
Satu jalur dipakai bersamaan Banyak jalur yang bisa dipakai
Ada di layer 1 (7 OSI Layer) Ada di layer 2
Tidak membaca MAC Address Membaca MAC Address
Tidak membuat virtual sirkuit Membuat virtual sirkuit
Sering terjadi collision Tidak terjadi collision
1 atau lebih hub, 1 collision domain 1 port, 1 collision domain
Kecepatannya di share Kecepatannya tidak dishare
Susah dicari barangnya Gampang dicari
Ditoko uda jarang mungkin uda gak ada yang jual Masih banyak yang jual

Kecepatan hub tergolong kecil hanya 10Mbps sedangkan switch itu 10/100Mbps, jadi tergantung lawannya apa switch berjalan 10Mbps atau 100Mbps ini dikarenakan adanya teknologi yang dinamakan autonegotiation, autonegotiation tidak hanya untuk kecepatan aja tetapi untuk mode duplex apakah half atau full, contoh soal, jika switch mempunyai kecepatan 10/100Mbps dan hub 10Mbps half duplex maka hasilnya adalah switch berjalan di kecepatan 10Mbps dengan mode half duplex.

Hub untuk menuju mengirim data dia selalu broadcast, jadi semua perangkat yang dipasang ke hub akan selalu mendapatkan data terus jika sudah diterima oleh perangkat akan dicek apakah ini data yang diterima sesuai tujuannya apa tidak, jika tidak maka perangkat yang bukan tujuannya akan menghapus data ini, dan yang menerima data hanya yang benar saja, dan disinilah letak tidak amannya dari hub, jadi kita bisa pasang suatu software agar kita membaca data meskipun kita tidak berhak karena hub selalu broadcast, berbeda dengan switch yang melakukan broadcast hanya sekali doang itu juga bukan data kita yang di broadcast tetapi mencari port tujuan.

Switch awalnya membaca MAC Address, apakah MAC Address sudah ada di CAM (Content Addressable Memory) Table apa belum!, jika belum ada di CAM Table maka switch melakukan broadcast ke semua port yang aktif, jika ada port yang me-reply maka akan di simpan di CAM Table. Di hub tidak membaca MAC Address dan tidak memiliki CAM Table.

Karena hub half duplex maka jalur receive dan transmit dipakai secara bersamaan dan imbasnya sering terjadi collision jika ada data yang dikirim secara bersamaan. Beda dengan switch yang full duplex yang receive dan transmit beda jalur jadi jika kecepatannya 100Mbps maka total dia mempunya 200Mbps, itulah karena full duplex jadi banyak jalur yang bisa dipakai dan karena half duplex jadi satu jalur dipakai bersamaan, dan karena ini juga hub kecepatannay di share secara bersamaan dan switch tidak karena dia satu jalur dan khusus untuk dia, dan enaknya lagi switch mempunyai jalur virtual yang telah di buat jika ingin ke tempat tujuan yang membuat switch lebih cepat beda dengan hub yang tidak ada jalur virtual

Masih ingat 7 OSI Layer? Nah 7 OSI layer banyak sekali manfaatnya di jaringan, kita jadi tahu alurnya, untuk perangkat keras sendiri hub itu berada di layer 1 di layer Fisik dan switch berada di layer 2 layer data link karena dia bisa baca MAC Address.

Yang dimaksud dengan collision domain adalah berapa besar peluang yang terjadi jika terjadi collision di suatu area, makin banyak nilai collision domain makin bagus jaringan itu berarti makin banyak jalur yang bisa dilalui, jika hanya satu doang collision domainnya maka hanya satu jalur doang yang bisa dilewati jika satu jalur ini terjadi collision maka yang lainnya harus antri dulu.


By danu


Tips Maintenance Kabel Jaringan: Yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan

network cable Tips Maintenance Kabel Jaringan: Yang Boleh dan Tidak Boleh DilakukanBerikut ini adalah ulasan singkat tentang standar umum penggunaan kabel jaringan agar berfungsi optimal dan sistem yang Anda bangun bisa berjalan seperti yang diharapkan. Ada beberapa hal mendasar yang perlu dicermati saat melakukan instalasi kabel UTP. Daftar ini tidak disusun dalam urutan tertentu dan tidak disusun berdasarkan urutan pentingnya.

Sebelum memulai instalasi kabel UTP, identifikasikan dulu standar kabel yang diperlukan. Pilih salah satu tipe ,T-568A atau T-568B. Kedua tipe kabel ini memiliki karakteristik yang hampir sama namun berbeda susunan pin dan penggunaannya. Jika Anda merasa perlu silakan simak juga ulasan lengkap tentang kabel UTP di sini.

  • Jika Anda bermaksud menambahkan koneksi pada jaringan yang sudah ada, pertama kali identifikasi standar apa yang telah digunakan dan ikuti standar tersebut.
  • Selalu bekerja dengan cermat dengan mengikuti standar kerja dan keselamatan.
  • Jangan campur tipe kabel T-568A dan T-568B dalam proyek atau jaringan yang sama.
  • Jangan menekuk, menghimpit atau menggulung kabel UTP dengan paksa.
  • Ikuti aturan spesifikasi radius minimal penggulungan kabel dari produsen.
  • Selalu rawat kabel dan konektor dengan baik.
  • Selalu gunakan perangkat yang tepat dan berkualitas saat melakukan krimping kabel kabel UTP.
  • Selalu jaga pasangan kawat tetap terpelintir dengan baik sedekat mungkin dengan ujung blok, jack atau konektor.
  • Jangan gunakan kabel, blok, atau konektor dengan kualitas yang lebih rendah dari kualitas yang disyaratkan untuk sistem.
  • Jangan menempatkan kabel UTP dekat kabel power, lampu neon atau sumber gangguan listrik.
  • Selalu gunakan topologi “star” atau “end-run” dengan mendesain masing-masing titik akhir terhubung kembali ke titik pusat, blok, switch, router, atau lainnya.
  • Jangan pernah membuat “daisy-chain” dengan menghubungkan kabel UTP lebih dari satu titik akhir dalam satu kabel.
  • Jangan menarik kabel UTP dengan menggunakan kekerasan. Lepas dengan tepat konektor/jack sebelum melepas kabel dari switch, blok atau slot konektor.
  • Jangan tarik kabel UTP dengan paksa sehingga mengendurkan atau bahkan lepas dari konektor.
Semoga dengan tips singkat ini jaringan Anda tetap aman dan terjaga..


oleh salsabel pada Mar.02, 2009, dalam Jaringan

Mengenal Kabel UTP (Unshielded Twisted Pair)

oleh salsabel pada Feb.28, 2009, dalam Jaringan

kabel utp 300x244 Mengenal Kabel UTP (Unshielded Twisted Pair)Bagi yang pengen belajar tentang jaringan terutama ingin mendapatkan panduan tentang Kabel UTP, silakan baca tulisan berikut ini. Saya berusaha menyajikan tulisan ini dengan bahasa saya sendiri agar lebih bisa dipahami daripada teks berbahasa Inggeris yang bagi sebagian orang justru membingungkan. Paling tidak tulisan ini bisa dijadikan panduan jarak jauh seorang teman saya yang membutuhkan informasi tentang kabel jaringan. Betul?

Sebelumnya saya perlu sampaikan sekali lagi bahwa catatan ini bersifat umum dan ditujukan untuk memberikan petunjuk sederhana yang lebih mudah dipahami tentang teknologi kabel jaringan atau yang sering disebut kabel UTP (Unshielded Twisted Pair). Ulasan ini tidak bersifat mutlak dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan panduan teknis, modul pelatihan atau bahan kuliah. Jika Anda merasa tidak familiar dan nyaman dengan istilah, konversi bahasa dan apapun yang saya pakai di sini silakan konsultasikan dengan praktisi atau profesional yang Anda kenal dan Anda anggap lebih mumpuni.

Baik, mari kita mulai

Jenis Kabel UTP
evolusi kabel network 300x267 Mengenal Kabel UTP (Unshielded Twisted Pair)Ada berbagai jenis standar kabel UTP yang digunakan secara luas untuk audio dan komunikasi data. UTP dikelompokkan dengan istilah “Category” dan oleh karena itu nama tipe UTP diawali dengan CAT (diambil dari kata “Category“). Semakin tinggi kategori, semakin rapat lilitan ke-delapan pasang kabel yang ada dalam isolator kabel UTP. Semakin rapat lilitan kabel ini, berarti semakin tinggi bandwidth efektif dan kapasitas output yang dapat dicapai. Semakin tinggi Kategori juga berarti semakin jauh pula jangkauan sinyal yang bisa disalurkan oleh kabel serta semakin kecil resiko hilangnya sinyal.

Jaringan kabel data, baik analog maupun digital, dapat dianalogikan persis seperti jalur pipa PDAM sebagai jaringan penyalur air. Logikanya semakin besar volume air yang akan disalurkan, semakin besar pipa yang harus disediakan. Karena kita semua paham bahwa secara teori, pipa besar dapat menyalurkan volume air yang besar pula.

Namun ada satu lagi pemahaman penting yang menarik untuk dicermati. Dalam jaringan data, jika ada satu titik saja dalam sirkuit atau network karena suatu hal menjadi lambat, maka biasanya keseluruhan sirkuit atau network tersebut akan terpengaruh. Dalam contoh analogi saluran air, jika Anda memiliki pipa berukuran 4″ yang menyalurkan air dari satu titik ke titik lain, air akan mengalir dengan stabil dalam jarak yang jauh.

Namun jika air mengalir beberapa meter melalui pipa berukuran 4″, kemudian ada bagian kecil yang dipersempit menjadi berukuran 1″ maka otomatis output air yang diterima oleh ujung yang lain dari pipa hanyalah sebesar volume air yang dapat melewati pipa 1″, bahkan setelah selanjutnya diperbesar kembali menjadi 4″. Dengan juga halnya dalam jaringan. Jika Anda memiliki jaringan yang dirancang untuk mentransfer data dengan kecepatan 100Mbps namun Anda melakukan kesalahan kecil dengan memilih kabel yang tidak tepat, memotong kabel dengan keliru, atau membuat konektor dengan kualitas rendah maka keseluruhan jaringan akan menjadi lambat. Penurunan kecepatan ini terkunci pada kecepatan titik terendah dari keseluruhan koneksi jaringan. Dalam dunia hardware kondisi ini sering disebut sebagai bottle-neck.

Trus bagaimana cara memilih kabel yang tepat? Silakan cermati kategori Kabel UTP yang banyak beredar berikut ini:

CAT3
Kabel kategori 3 adalah kabel standar yang digunakan dalam industri telekomunikasi. Selama beberapa tahun belakangan tipe kabel ini masih digunakan secara luas di seluruh industri telekomunikasi. Kabel tipe ini bisa membawa data dengan kecepatan lebih dari 10Mbps. Untuk kepentingan transfer data dalam sirkuit audio atau transfer data kecepatan rendah biasanya cukup digunakan tipe kabel CAT3.

Kategori kabel ini banyak diminati karena relatif murah dan tersedia dalam berbagai pilihan dari segi jumlah isi inti kabel dalam 1 unit kabel UTP. Ada beberapa pilihan kabel yang dapat dipilih sesuai kebutuhan. Ada yang berisi 2-pasang, 4-pasang, 6-pasang, 16-pasang, 25-pasang bahkan lebih. Konduktor dalam kabel ini terdiri dari beberapa kawat yang dililit berpasangan dengan isolator kabel yang dilengkapi dengan kode warna. Kode warna dari pasangan kabel yang ada pada CAT3 dimulai dengan “putih/biru” sebagai pasangan pertama
dan dilanjutkan dengan urutan kode warna grafik sesuai jumlah pasangan kabel.

CAT5
Kabel kategori 5 dipilih menjadi standar kabel UTP semenjak pertama kali kabel UTP populer dan digunakan untuk aplikasi komunikasi jaringan/data. Kabel CAT5 biasanya terdiri dari empat pasang kabel. Kabel ini diperuntukkan bagi aplikasi data hingga 100MHz. Tapi, meski kabel data UTP umumnya dinamakan “kabel CAT5″, Jangan keliru antara CAT5 dengan CAT5E. Kabel CAT5 sangat identik dengan kabel CAT5E kecuali bahwa kabel CAT5E memiliki standar keseragaman dan kerapatan lilitan pasangan kabel yang lebih tinggi.

CAT5E
Kabel Kategori 5E adalah standar industri baru untuk instalasi kabel data UTP. Kabel ini biasanya juga terdiri dari empat pasang kabel. Rating bandwidth kabel CAT5E adalah 100Mbps, namun bandwith maksimalnya bisa mencapai 1000Mbps jika diinstall dengan standar kualitas yang ketat. Saat ini CAT5E adalah standar baru untuk semua konstruksi kabel UTP. Oleh karenanya saat ini kabel CAT5E sudah tersedia secara luas dengan kualitas yang lebih tinggi daripada CAT5 dengan harga dasar yang hampir sama seperti CAT5. Bahkan beberapa perusahaan sudah menghentikan penggunaan kabel CAT5 dalam instalasi jaringan mereka.

CAT6
Kabel kategori 6 adalah standar kabel UTP dengan sertifikasi resmi paling tinggi. Kabel ini identik dengan CAT5E namun telah memenuhi standar yang lebih ketat bukan hanya soal kerapatan lilitan tiap pasang kabel namun juga termasuk tingkat penyaluran data, isolator kabel dan pelindung tiap pasang kabel. Dengan lilitan semakin rapat, ditambah semakin baik isolator dan pemisahan tiap pasang kabel maka semakin rendah noise atau berkurangnya sinyal sehingga CAT6 mampu menyalurkan data dengan bandwidth tertinggi di kelasnya. Kabel CAT6 biasanya juga terdiri dari empat pasang kabel tembaga. Jika Anda melakukan instalasi jaringan 1000Mbps atau Gigabit LAN, tak ada pilihan lain, kabel UTP tipe inilah yang harus digunakan.

Plenum Rated Cable
plenum rated cable Mengenal Kabel UTP (Unshielded Twisted Pair)Plenum rating adalah nilai yang diberikan pada kabel dengan lapisan khusus yang jika terbakar akan menghasilkan bahan berbahaya di udara lebih sedikit. Hal ini dimaksudkan pada kondisi buruk saat terjadi kebakaran. Tipe kabel ini biasanya lebih mahal daripada kabel standar “riser”. Oleh karena itu, sebelum memulai instalasi kabel, ada baiknya Anda memeriksa kondisi bangunan untuk menentukan apakah kabel Plenum Rated Cable harus digunakan. Gambar di samping ini merupakan salah satu contoh kabel dengan Plenum Rating.

Koneksi Kabel Cross
Kabel Kategori 3 dengan pasangan tunggal dan 2 pasang kabel tanpa pelindung sudah sangat murah dan dijual dalam berbagai pilihan warna yang variatif.

Kabel ini merupakan standar industri yang dapat digunakan untuk “lintas koneksi” dari satu blok ke blok lain. Kabel tipe ini aman digunakan untuk menghubungkan jalur telekomunikasi antar sirkuit tetapi tidak baik digunakan untuk aplikasi data kecepatan tinggi.

Nah, sudah tahu kan beda Antar Tipe Kabel UTP? Sekarang Anda tinggal pilih tipe kabel mana yang sesuai dengan koneksi jaringan Anda. Pilih tipe kabel dengan bijak dan jangan hanya terpesona dengan iming-iming harga murah. Hasil kerja keras Anda ditentukan sejak saat Anda memilih kabel yang tepat bagi jaringan Anda. Jika sudah Anda putuskan, Anda bisa memulai membuat koneksi Kabel Straight maupun Kabel Cross sesuai kebutuhan Anda.


copas dari suatu site....

DNS Speedy

ns1.telkom.net.id (203.130.196.6)
ns2.telkom.net.id (202.134.2.5)
ns3.telkom.net.id (202.134.1.10)
dns1.telkom.net.id (202.134.0.62)
dns2.telkom.net.id (203.130.196.5)
nsjkt1.telkom.net.id (202.134.0.155)
nsjkt3.telkom.net.id (203.130.196.155)
nssby1.telkom.net.id (202.134.1.10)
nsbtm1.telkom.net.id (203.130.193.74)
nsmdn1.telkom.net.id (203.130.206.250)
nssmg1.telkom.net.id (203.130.208.18)